7 Tahun Kabupaten Kepulauan Meranti
Cluster Sagu Nasional di Perbatasan
Penulis: By Theo | Kamis, 17 Desember 2015 | 12:24 WIB Dibaca: 298 kali



19 Desember ini tepat tujuh tahun Kabupaten Kepulauan Meranti terbentuk. Daerah otonomi termuda di Provinsi Riau tersebut semakin menegaskan tekat menjadi kawasan niaga yang maju di perbatasan Indonesia-Malaysia.

 

Bukan tanpa alasan daerah yang berada di alur Selat Melaka ini ingin menjadi salah satu gerbang perdagangan internasional. Dari sejarahnya sudah terbina hubungan dagang tradisional antarnegara yang cukup akrab. Selain itu tentu saja Kepulauan Meranti memiliki segudang keunggulan yang potensial dikembangkan sebagai komoditas ekspor. Diantaranya adalah sagu.

 

Dengan luas 3.707.84 Km2, Kepulauan Meranti memiliki sekitar 70 ribu hektare kebun sagu. Varietas sagu di daerah ini juga sudah ditetapkan sebagai varietas terbaik dan perkebunan sagunya sudah dijadikan cluster pangan nasional.

 

Kegiatan hulu pengembangan tanaman sagu di daerah ini sudah cukup baik. Namunpenggarapan sektor hilirnya masih kurang sehingga sangat terbuka peluang investasi bidang industri hilir sagu ini.

 

“Suatu karunia dari Allah SWT bahwa tanaman sagu di Meranti itu sangat baik. Kita terus berupaya mensosialisasikan sagu sebagai sumber pangan bergizi dan membuka peluang pemanfaatan sagu untuk kebutuhan lainnya seperti gula cair untuk kebutuhan industri makanan,” ungkap Penjabat Bupati Kepulauan Meranti Drs H Edy Kusdarwanto, MM.

 

Edy berkeyakinan sagu bisa menjadi salah satu sumber ketahanan pangan nasional. Hal ini mengingat sagu adalah tanaman pangan nusantara yang sudah dikembangkan sejak lama. “Bahkan dalam relief di Candi Borobudur terdapat relief pohon sagu disamping aren dan pohon lontar,” tambah Edy.

 

Untuk itulah Edy berharap semakin banyak masyarakat Indonesia terutama anak-anak muda mengonsumsi sagu. Disamping nilai gizinya yang lebih baik dari beras, sagu juga bukan makanan masyarakat miskin sebagaimana anggapan selama ini.Mengenai kandungan gizi sagu ini diakui oleh Prof Irwan Usman Pato, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Riau (UR) yang juga ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (Patpi) Cabang Riau. "Energi yang dihasilkan sagu jauh lebing tinggi dari beras dan gandum. Orang yang mengkonsumsi sagu seperti masyarakat di Papua, energinya jauh lebih kuat dari yang mengkonsumsi nasi. Kandungan energinya tinggi sedangkan kadar gulanya rendah, " ungkapnya.

 

Saat ini terdapat sekitar 67 pabrik pengolahan sagu di Meranti. Rata-rata pabrik tersebut mengolah batang sagu menjadi tepung sagu yang kemudian diekspor ke Thailand, Singapura dan Jepang. Ironinya negara kita mengimpor kembali produk pengembangan dari sagu itu berupa kosmetik dan panganan.

 

Kawasan Niaga

 

Meski baru berusia tujuh tahun, akselerasi pembangunan di Kepulauan Meranti membuahkan hasil optimal. Buktinya, evaluasi oleh Direktorat Penataan Daerah, Otsus dan DPOD Kementerian Dalam Negeri memutuskan bahwa Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi Kabupaten pemekaran terbaik ke-2 se-Indonesia Tahun 2014. Evaluasi melibatkan 32 kabupaten/kota hasil pemekaran tahun 2008 sampai dengan 2009. Hasilnya Kepulauan Meranti mendapatkan poin 80,4, terpaut 0,01 poin dengan Kota Tanggerang Selatan di tempat pertama yang meraih poin 80,5.

Yang paling menakjubkan adalah pertumbuhan anggaran pembangunan. Tahun 2009Meranti hanya memperoleh alokasi APBD hibah sebesar Rp 90 miliar namun berhasil ditingkatkan menjadi Rp 473 miliar pada 2010. Tahun 2011 APBD Kabupaten Kepulauan Meranti mengalami peningkatan sangat spektakuler yakni Rp 1,06 triliun lebih. Angka triliunan ini bertahan hingga sekarang dimana pada tahun 2012 sebesar Rp 1,09 triliun, tahun 2013 Rp. 1,4 triliun, tahun 2014 mencapai Rp. 1,6 triliun dan tahun 2015 sebesar Rp. 1,4triliun.

Trendkenaikan APBD berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kepulauan Meranti selama Periode 2010 -2013 rata-rata menunjukkan kenaikan yang sangat baik. Pertumbuhan Ekonomi tahun 2010 sebesar 7,45 persen, tahun 2011 mengalami pertumbuhan 8,45 persen, tahun 2012 sedikit menurun 8,19 persen dikarenakan stabilitas ekonomi global yang terkoreksi, dan tahun 2013 meningkat menjadi 8,22 persen.

Sementara itu angka kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti pada saat baru pemekaran mencapai 42,57 persen. Dengan akselerasi program penanggulangan kemiskinan yang terarah maka tahun 2013 angka kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti dapat ditekan sebesar 35,74 persen. Dengan kondisi geografis di Kabupaten Kepulauan Meranti yang berpulau-pulau, ditambah dengan infrastruktur dasar yang belum terjangkau ke seluruh pelosok, termasuk juga instabilitas harga bahan makanan dan nonmakanan yang dipasok dari luar daerah membuat pengeluaran masyarakat menjadi besar, serta bencana kebakaran lahan dan hutan yang melanda perkebunan masyarakat membuat permasalahan kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi kompleks.

 

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti telah melakukan langkah-langkah terobosan dengan meningkatkan pembangunan dalam memenuhi kebutuhan infrasruktur dasar yang dilaksanakan dalam berbagai bentuk program dan kegiatan, seperti: Pembangunan Jalan dan jembatan dengan konsep merangkai Pulau.

 

Saat ini telah dan sedang dilaksanakan pembangunan 4 koridor utama jalan yang menghubungkan antar kecamatan dalam kabupaten, dan antar kecamatan antar kabupaten dan antar provinsi. Koridor I pembangunan jalan Alai – Mengkikip yang membuka akses utama Kota Selatpanjang sebagi ibukota Kabupaten kepulauan Meranti menuju  Pelabuhan Buton di Siak. Koridor II Ruas jalan Lukun-Sungai Tohor- Tanjung Sari yang nantinya akan membuka akses Pelabuhan Tanjung sari menuju Tanjung Balai Karimun dan akses ke Selat malaka. Koridor III Ruas jalan Lukit -  Tanjung Padang membuka akses antar kecamatan dan antar desa di Pulau padang. Koridor IV ruas jalan Melai –Kedabu Rapat yang membuka akses antar desa dan Kecamatan di Pulau Rangsang.

 

Namun yang paling dirasakan adalah pengembangan elektrifikasi melalui program listrik desa. Pada tahun ini rasio elektrifikasi di Kabupaten Kepulauan Meranti sudah mencapai 85 persen.            Program pemerataan listrik ini konsisten dilakukan dengan penambahan jaringan listrik baik melalui Jaringan Tegangan Menengah maupun Jaringan Tegangan Rendah yang bersumber dari PLTD Desa maupun PLN. Termasuk juga penambahan kapasitas pembangkit di PLTD milik PLN agar dapat menjangkau pemenuhan kebutuhan listrik di desa-desa.

 

“Saya berkeyakinan Kepulauan Meranti akan menjadi daerah yang maju di Riau. Kuncinya adalah pada peningkatan sumber daya manusia untuk mengelola berbagai potensi melimpah yang dikaruniakan Allah pada daerah ini,” tutup Edy Kusdarwanto.(*)

(Advetorial Meranti)

[ Kembali ]
Berita Lainnya
Meranti Raih WTP 5 Kali Berturut-turut
Tengku Akhrial Sambut 19 Bintara Baru Polres
Prioritaskan Infrastruktur Publik, Irwan Tunda Bangun Kantor
Bupati Irwan Takjub Kedelai Tumbuh di Rangsang
BUPATI IRWAN RESMIKAN KANTOR DESA TENGGAYUN RAYA
Politik
Hukrim
Wisata & Budaya
Advertorial
Ekbis
Pendidikan
Olahraga
Galeri
Riau
Nasional
Internasional
Opini
Redaksi
Indeks Berita
Indeks Headline
Indeks Terpopuler
@2013 Wahananusantara.com All Rights Reserved.