Ketika Kuasa Tuhan Diambil Manusia
Penulis: By Teo | Jumat, 06 Maret 2015 | 13:40 WIB Dibaca: 289 kali


Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Bunyi suara letusan senapan dari regu tembak Brimob Polri memecah keheningan Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Satu persatu para gembong narkoba pun bersimbah darah, meregang nyawa saat eksekusi tahap pertama beberapa waktu lalu.
 
Kini, sejumlah terpidana mati tahap dua sedang menunggu eksekusi di pulau yang terkenal sebagai penjara penjahat kelas kakap tersebut. "Inilah yang disebut kuasa Tuhan sudah diambil alih manusia. Ketika kematian ditentukan oleh keputusan manusia," ujar Rudi Rasudi dari Gerakan Anti-Hukuman Mati di Jakarta, Jumat (6/3/2015).
 
Kata dia, pro dan kontra terkait dengan eksekusi ini terus bermunculan. Baik itu dari warga Indonesia sendiri maupun dari warga dunia yang mengecam eksekusi tersebut.
 
"Protes yang dilakukan Australia atas rencana eksekusi duo Bali Nine, tentu pantas dilakukan. Karena hak hidup seseorang bukan ditentukan oleh manusia tapi atas kuasa Tuhan. Sang pencipta saja masih mau memaafkan umatnya ketika bertobat," bebernya.
 
Kendati demikian, Rudi mengaku bukan ingin membela gembong narkoba. Dia juga sepakat narkoba harus diberantas hingga tuntas. "Kami juga sepakat hukum bandar narkoba seberat-beratnya, tapi tidak dengan berujung di peluru senapan Brimob. Masih ada cara lain yang bisa membuat jera para bandar narkoba, masih banyak cara lain untuk menghakimi manusia yang telah merusak generasi muda. Biarkan kuasa Tuhan yang menentukan," ungkapnya.
Menurutnya, sangat wajar jika Australia membela mati-matian rencana eksekusi tersebut. Ini juga akan dilakukan Indonesia ketika mendengar ada warganya yang akan dieksekusi mati.
 
"Masih ingat bagaimana nasib TKW Indonesia yang nyawanya berujung di pedang milik eksekutor pemerintah Arab Saudi. Indonesia juga melakukan yang sama, bagaimana upaya pemerintah untuk menggagalkan eksekusi tersebut walaupun harus berujung kekecewaan," terangnya.
 
Dia juga mempertanyakan, apakah pemerintah Jokowi-JK sudah melihat bagaimana proses hukum yang terjadi di pengadilan. Sementara bandar-bandar besar masih bebas dan belum tertangkap. "Apakah Presiden Jokowi sudah membaca permohonan grasi, atau jangan-jangan tidak dibaca bagaimana mereka menyapaikan pembelaanya," ujarnya.
 
Rudi berharap, jangan sampai eksekusi gembong narkoba ini merusak citra bangsa Indonesia yang terkenal dengan kultur masyarakat ramah, sopan dan santun. Dari 2004-2014 sudah ada tiga warga Indonesia yang dihukum mati di luar negeri.
 
"Sementara 360 terancam hukuman mati dan 17 diantaranya sudah vonis tetap. Jika Indonesia masih memaksakan hukuman mati, maka negosiasi dengan negara lain untuk membebaskan para TKI yang terancam hukuman mati akan sulit. Hukuman mati menurut saya tidak manusiawi, karena ini bertolak belakang dengan hidup sudah diatur sama Maha Pencipta," pungkasnya.
sumber:okezone
[ Kembali ]
Berita Lainnya
Mengagumkan, Ini Kesan Mendagri Tjahjo Terhadap Sosok HM Sani
KPK Minta Pemprov Riau Segera Fungsikan Stadion Utama
Warga Yogya Dukung Kemendes Tak Istimewakan Eks PNPM
Empat Jasa Bung Karno pada Dunia yang Akan Terus Dikenang
HT: Banyak Korupsi Berlindung di Balik Hukum
Politik
Hukrim
Wisata & Budaya
Advertorial
Ekbis
Pendidikan
Olahraga
Galeri
Riau
Nasional
Internasional
Opini
Redaksi
Indeks Berita
Indeks Headline
Indeks Terpopuler
@2013 Wahananusantara.com All Rights Reserved.