Elwan protes, saat penyidik PPNS, Musnimar sebut PT Pec- Tech tak mau bayar.
POTRET BURAM WAJAH DISNAKER RIAU , 15 TAHUN TAK SELESAI TANGANI KASUS JHT
Penulis: ( teo) | Kamis, 19 Pebruari 2015 | 17:44 WIB Dibaca: 2293 kali


Kantor Disnaker Riau

PEKANBARU- Penanganan kasus tuntutan  Jaminan Hari Tua ( JHT) seorang Buruh PT. Pratama Energi Contruksi Technologi Indonesia ( Pec- Tech) Pangkalan Kerinci,  menjadi sorotan berbagai kalangan. Kasus yang telah  melibatkan pejabat pemerintah daerah maupun pusat itu ternyata sudah 15 tahun tak kunjung selesai ditangan Disnaker Riau.

Hal itu terungkap saat wartawan wahananusantara. Com  meliput pertemuan antara pihak PT Pec-Tech, Elwan Jumandri dengan  pengawas Disnaker Riau, Musnimar, dihadiri oleh Zulham selaku karyawan PT Pec- Tech, dikantor Disnaker Riau, senin ( 09/02/2015) kemarin.
 
“Sepertinya Disnaker tak serius tangani kasus ini, sejak tahun 2000 sudah dilaporkan, hingga saat ini sudah 15 tahun namun tak tuntas, malah terakhir  pengawas Disnaker bersikap seolah memaksa saya untuk menerima JHT itu tanpa jasa pengembangannya, ungkap zulham, saat ditemui wartawan usai pertemuan.

Tambahnya ,” selama 15 tahun dana JHT senilai sebelas juta dipendam, uang hasil pengembangannya dikasi kepada siapa ?. Ini kan kelalaian  Disnaker, mengapa  buruh yang dikorbankan menanggung akibatnya. Ada apa dibalik semua ini ?", katanya, dengan nada bertanya.

“ Dimanapun JHT itu ada Jasa Pengembangannya, itu sudah aturan. Diminta atau tidak,  tetap saja otomatis harus ada. Pengelola JHT itu adalah PT.Jamsostek, jadi harus mengacu kesana.Pada tahun 2003  Jamsostek  menetapkan  besarnya 12,5 persen”, tambahnya lagi.
 
Lanjutnya, “Semestinya Disnaker sudah melimpahkan kepada kepolisian atau melakukan kordinasi dengan penuntut umum kejaksaan, karena ini kasus pidana. Apalagi kasus ini sudah sangat lama dan berdasarkan proses Pro Yustitia yang dllakukan penyidik Disnaker Riau pelaku, tersangkanya sudah ada yaitu derektur PT. Pec- Tech,  Devanesan ". ujar zulham.

Informasi yang berhasil dihimpun Wahananusantara.com, bahwa semenjak tahun 1996  PT. Pec– Tech di Pangkalan Kerinci, yang Notabene pemilik nya adalah boss RAPP, Soekanto Tanoto, dipercaya menjadi kontraktor utama membangun pabrik pulp  yang konon katanya  terbesar di sentero Asia . Saat itu Derektur dijabat  Devanesan.

Sosok tinggi besar yang memiliki nama lengkap Joseph Devanesan Alagratnam, kebangsaan Srilangka, kelahiran Colombo, januari 1955 itu, disamping Derektur Pec- Tech, juga belakangan memegang berbagai jabatan penting diperusahaan Taipan sang raja pulp, Soekanto Tanoto . Terakhir diketahui menjabat sebagai Chief Executive Officer ( CEO ) di PT Riau Andalan Pulp & Paper ( RAPP) Pangkalan Kerinci-yang tergabung dalam Asia Pacific Resources International Limited ( APRIL) Group,  berkantor  di Singapura
.
Dan terkait kasus JHT ini, pada agustus 2000, pihak Disnaker Sudah memulai penyelidikan secara Pro Yustitia ( demi hukum harus diproses- red) terhadap pelaku tersangka, namun anehnya senyap begitu saja.
 
Lanjut zulham ,“ Sudah banyak pihak yang mendorong penyelesaian kasus ini. Misalnya DPR Provinsi  Riau, pada tahun 2001, melalui surat nomor: 005/2001-3/um/167, secara resmi  mengundang Gubernur Riau C/q. Sekda Provinsi Riau. Saat itu diadakan pertemuan dikantor DPRD dan Pihak Disnaker berjanji menyelesaikannya. Namun hingga kini tak jelas”, ujar nya.

“Tak terkecuali , Kementerian Tenaga Kerja RI, melalui Dirjen Binawas, pada tahun yang sama, mengeluarkan surat nomor : B-624/Bw.Nk/00, memerintahkan agar Disnaker Riau  menyelesaikan kasus tersebut dan segera melaporkan hasilnya. Namun sampai saat ini belum ada titik terangnya. Aneh kan, sepertinya Disnaker “gamang”  memproses perusahaan milik taipan Soekanto Tanoto itu”, katanya, rada bertanya.
 

"Setelah ada desakan,  barulah  pada awal tahun 2015, melalui Kabid Pengawasan, Rasidin, SH , kasus ini ditangani lagi. Maka melalui surat tertanggal 5 Januari 2015, yang ditanda tangani Kepala Dinas Tenaga Kerja Riau, H. Nazaruddin, SH, MM, memanggil pimpinan perusahaan Pec- Tech. Anehnya, disurat itu tertulis panggilan pertama, padahal penyidik sebelumnya  sudah mengirimkan panggilan yang ke 2 .


Panggilan itu ternyata bukan pemeriksaan pimpinan Pec- Tech, karena yang hadir hanya utusannya. jadi lebih tepat disebut  pertemuan . Itu pun tak ada hasilnya, alias Dead Lock" , sebut zulham , mengisahkan.
 
jalannya pertemuan itu terpantau langsung oleh wahananusantara. Com. Pada saat itu pihak pengawas, Musnimar, ngotot hanya mau membayarkan pokoknya saja.
 
Bergaya seolah menjadi juru bicara perusahaan , sambil merapat ke posisi dimana Elwan duduk  seraya mengangkat- angkat tangan kiri nya, dia mengatakan, mau terima enggak uang itu, sekarang perusahaan tidak mau membayar Jasa Pengembangan, kalau tidak  terima, persoalan ini saya tutup, ujarnya, dengan nada setengah mengancam.

Sepontan itu juga, Elwan , Selaku Pihak PT. Pec- Tech membantah, dengan mengatakan, siapa yang  bilang seperti itu perusahaan tak mau bayar, sergahnya dengan nada setengah  bertanya.”Jangan bawa- bawa perusahaanlah, itukan tergantung pengawas”, sebutnya dengan nada tinggi dan rona wajah agak memerah,  seolah menahan marah.

Mendengar sentakan itu, sejenak Musnimar terdiam bungkam tak berkata.

Sepenggal peristiwa yang rada tegang itu sempat terekam oleh wahananusantara.com.(wnc-Teo)


[ Kembali ]
Berita Lainnya
Eksekusi terpidana narkoba akan berlangsung tahun ini
OC Kaligis Akan Hadapi Sidang Dakwaan di Pengadilan Tipikor Hari Ini
Ratusan Personil Dikerahkan Padamkan Karhutla di Bengkalis
Oknum Guru Ini Berhasil Tipu Korban Rp160 Juta
Tiga Tersangka Dugaan Korupsi Pelebaran Jalan HR Soebrantas Bakal Diperiksa
Politik
Hukrim
Wisata & Budaya
Advertorial
Ekbis
Pendidikan
Olahraga
Galeri
Riau
Nasional
Internasional
Opini
Redaksi
Indeks Berita
Indeks Headline
Indeks Terpopuler
@2013 Wahananusantara.com All Rights Reserved.